04 May 2015

Idealisme Mimpi Vs Kenyataan

Dalam proses berkembang, sebuah negosiasi panjang yang alot dengan diri sendiri akhirnya harus bertemu dalam kata sepakat untuk saling memberi ruang antara idealisme dan keadaan terkini dalam masyarakat, yang orang-orang menyebutnya kenyataan.

Yang terjadi di masa ini adalah ada sebagian orang yang "melonggar"kan idelisme: bergabung dengan sistem lama yang membuatnya perlahan mengakui ketidak mungkinan dan mulai mengutuk orang lain yang tidak sepaham dengan kata "naif".

Tapi ada sebagian lain yang justru mengarahkan orang-orang membentuk kenyataan baru, mengukuti idealismenya. Kebanyakan, ini menganut taktik infanteri. Satu demi satu, virus dalam idealismenya itu disebarkan. Perlahan tapi pasti ide itu menular dari mulut ke mulut, antar komunitas, dan akhirnya menjadi sesuatu yang diterima dalam masyarakat sebagai pembaharuan.

Saya sedang berbicara tentang para tokoh yang berhasil membuat sejarah, yang saya yakin di masanya kelihatan seperti mimpi kosong, seakan-akan hanya bisa terjadi di dunia dongeng. Apple, Disney, Facebook, dan Virgin adalah konsep yang pada awal pencetusan idenya hanya seperti candaan anak kecil yang tengah mengkhayal. Virgin misalnya, telah berhasil menyatakan bahwa membuat perjalanan wisata ke luar angkasa bisa menjadi kenyataan. Dulu siapa yang berani berencana untuk bermimpi bangun hotel di bulan? Sekarang, sudah ada paket wisata ke luar angkasa.

Ada benarnya kalimat bijak, bahwa para singa tidak pernah mendengarkan opini domba-domba. Tentu saja, kenapa harus meluangkan waktu untuk hal yang mengerdilkan diri? Kenapa perlu mendengar orang-orang yang sebenarnya tidak mengerti dan terlalu kecil untuk sebuah mimpi yang sebenarnya juga tidak besar. Toh, masing-masing pribadi memainkan  peranan yang berbeda,  harus ada orang gila yang suka rela membuat kemajuan di dunia, dan pasti ada yang kebagian jadi penonton (tim tepuk tangan).

Ketika satu manusia bisa melakukan, berarti manusia lain dapat pula melakukannya, kecuali yang merasa/berpikir tidak bisa. Jika satu orang bisa sukses, semua orang berarti bisa sukses, kecuali yang merasa/berpikir tidak bisa. Memang, masalah yang selalu akan muncul diawal adalah penolakan orang-orang terhadap kondisi baru. Itu hukum alam: kelembaman, kecenderungan sebuah zat/benda untuk mempertahankan posisi/keadaannya. Artinya, diperlukan gaya ekstra yang konsisten untuk dapat merubah arah/posisi benda tersebut. Konsiten, terus-menerus sampai arah/posisinya berubah. Sampai tercipta kenyataan baru yang diterima masyarakat sebagai sebuah kondisi normal (bahkan tren). Tidak gampang, tapi tidak mustahil.

Yang saya ingin sampaikan adalah berhenti berpikir jika mustahil itu ada. Satu-satunya yang mustahil di dunia ini adalah kemustahilan itu sendiri. Jangan membiarkan orang lain memangkas mimpi yang kita pelihara dengan subur. Selama untuk kebaikan diri sendiri, apalagi untuk orang banyak, bukan suatu aib jika mendobrak tradisi demi mewujudkan mimpi itu.


Be a real human, be creative, be infinitive.
Sukses!


No comments:

Post a Comment

Apa Pendapatmu?

Trending