01 November 2011

Menari Telanjang

kepada temanku yang baru : Fidelia Harris

sebentar lagi hujan.
mari telanjang dan berlarian di luar.
menari, seakan hari ini tiada akan pernah bertepi.
sebab matipun ternyata bukan kunci.
atas pertanyaan yang terkurung dalam hati selama ini
: kapan manusia akan menjadi manusia,
-dan dan tak lagi pura-pura suci-?


diguyur kita oleh tangisan itu.
langit terisak tak henti menyesali keperewanannya direnggut sopir angkot yang biasa mengantarnya menemui- matahari dan bintang-bintang
melahirkan kita dengan tangisan yang hampir sama
sebagai noda di wajahnya

gerak liuk tarianmu,
seperti juga tarianku
naik-turun
berputar
melompat
seirama dengan cipratan ludah-ludah mereka yang lewat
mendarat persis ke wajah kita


aku bahagia,
kau senang bukan kepalang.
seperti tangis bayi yang terhenti saat meminum susu di dada ibunya.
sebab topeng-topeng itu terlepas.
jatuh berhamburan, mirip wajahmu dan wajahku.
: kita tak pernah lebih dari mereka.
merekapun tak lebih baik dari kita
lupakan saja.

hitam di langit tak kunjung luntur
matahari, bintang, dan bulan saling bentur
kita masih berlarian ;
tertawa
menari.
dan telanjang.


Nino Zulfikar
Jakarta, 1-2 November 2011


No comments:

Post a Comment

Apa Pendapatmu?

Trending