11 January 2016

Mitos dan Fakta Pendidikan

http://i.huffpost.com/gen/1506709/images/o-SCHOOL-facebook.jpg

It's a litlle bit akward for me to talk about my private life and how I see it. But, you know, everyone needs a space to share their own story in their own way.

Btw, I'm just getting 25. Not too bad for a person who won't stop playing and dreaming like a child. 

Di usia ini bagi saya seperti masuk ke pintu gerbang dunia lain. Dunia yang lebih serius, lebih terikat oleh tanggung jawab yang lebih berat. The good new is eksistensi sudah lebih diakui. Sudah dianggap individu mandiri sekalipun yang berkepribadian manja.

Masing-masing kita memang diciptakan sempurna dalam kehidupan kita sendiri-sendiri, tapi dalam perjalan seorang manusia tentulah ada hal-hal yang ingin mereka perbaiki di masa lalu. Bukan penyesalan, hanya semacam harapan untuk menjadi lebih baik.

Sekedar membagi pengalaman, bagi kalian yang akan menginjak usia ini. Terutama yang merasa senasib. Hehe. #catatan25tahun

Chapter #1
Mitos Pendidikan

Memang, pendidikan itu sendiri lebih luas dari pagar gedung-gedung institusi pendidikan formal. But, ada hal-hal yang akhirnya memaksa kita mengikuti jalur kebanyakan orang.

Dari kecil saya tidak punya cita-cita apapun. Tidak ada alasan untuk saya merencanakan jalur pendidikan yang panjang. Dan karena alasan ekonomi, seorang anak sulung tentu saja tidak akan terlalu berpikir yang berpotensi memberatkan orang tua secara ekonomis.

Saya yang waktu itu sedang menginjak bangku SMP sama sekali tidak berani membayangkan akan melanjutkan pendidikan tinggi ke perguruan tinggi di kampus-kampus terkemuka, baik dalam apalagi luar negeri. Muncul pandangan bahwa pendidikan tinggi hanya dominasi orang kaya.

Setelah ekonomi keluarga membaik, pohon stigma negatif itu telah tumbuh kokoh di alam bawah sadar. Saya menjadi semacam anti pendidikan formal bahkan di saat telah mempunyai penghasilan sendiri yang cukup untuk itu.

Mungkin karena sudah paham bagaimana cara menghasilkan uang di saat kawan-kawan seangkatanku sedang ber-kuliah ria, secara psikologis pendidikan tinggi tidak lagi menjadi solusi untuk membantu membenahi ekonomi keluarga. Dan karena saya agak sepakat dengan "ilmu yang di dapatkan dalam kampus 70% tidak berhubungan dengan dunia kerja".

Alergi pendidikan tinggi bukan berarti saya berhenti mencari ilmu. Saya tipikal orang yang sangat haus pengetahuan baru. Sebagai gantinya saya membaca buku-buku filsafat, agama, bisnis, fisika, psikologi, kepemimpinan, komunikasi, kebudayaan dan autobiografi tokoh-tokoh terkenal dunia sebagai bekal bertarung dengan akademisi-akademisi di ring dunia kerja sambil meraba-raba sendiri hakikat, funsi, dan tujuan ilmu sebenarnya.

Di usia ini saya sudah 3 kali mengenyam materi 2 semester awal di bangku perkuliahan. Semuanya layu sebelum berkembang: tidak ada yang melewati semester 3. Harus saya akui bahwa stigma negatif tentang pendidikan tinggi itu terlah menjadi tembok yang mendadak sangat besar dan terlalu tinggi untuk dilalui.

Faktanya...

Sekolah tinggi ternyata tidak selalu harus menggunakan biaya pribadi. Anggaplah jalur beasiswa itu sulit didapatkan karena terlalu banyak saingan. Syukur-syukur kalau kawan-kawan punya nilai di atas rata-rata, jadi tidak terlalu mustahil dapat pembiayaan dari pihak ketiga.

Faktanya, ada beberapa univeristas di Indonesia  menggunakan sistem subsidi silang. Artinya, mahasiswa dari kalangan ekonomi menengah ke atas dibebankan biaya pendidikan yang lebih tinggi untuk menutupi anggaran dari mahasiswa "kurang mampu" yang bahkan bisa tidak dibebankan biaya apapun. 

Silahkan googling atau tanya ke teman mahasiswa yang lebih paham universitas-universitas mana saja yang menggunakana sistem subsidi silang ini. Setahu saya salah satu diantaranya adalah Universitas Indonesia.

Atau kalau masih ada waktu dan tekad untuk mempersiapkan kuliah ke luar negeri, ada sangat banyak bertaburan beasiswa dari negara-negara yang menjalin kerjasama dengan Indonesia. Simpelnya, tinggal berkunjung saja kantor kedubes yang ada di Jakarta. 

Bagi yang di luar Jakarta, tinggal kirim email untuk minta persyaratanya, buat CV, Proposal, bla bla bla, submit, beres. Tinggal berdoa yang banyak.

Kesulitan ekonomi sama sekali bukan penghambat seseorang untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas. Semua warga negara berkesempatan yang sama. Yang membedakan kita semua hanyalah nilai ijazah, informasi, link, dan pola pikir.

Saya tidak mengatakan bahwa tidak berpendidikan tinggi itu aib atau semacamnya. Tapi saya mau tanya satu hal : Orang tua mana yang tidak bangga anaknya berpendidikan tinggi? Dan anak mana yang tidak ingin membahagiakan orang tuanya? Eh, dua hal. 

Pendidikan adalah jalur pintas yang mendapatkan kelas tersendiri di masyarakat yang mampu meyatarakan manusia tanpa memandang "asal"nya.

Sekalipun orang tua tidak menuntut gelar berjajar di belakang nama kita, foto wisuda adalah obat penawar kecemasan mereka akan ketidakpastian masa depan anaknya sekaligus semacam piala kesuksesan orang tua. Setidaknya, membuat orang tua merasa satu kewajiban besarnya kepada kita telah tertunaikan.

Toh apa salahnya menyenangkan orang tua? 

Walaupun prestasi tidak selalu melekat di halaman belakang ijazah...
Walaupun rezeki tidak memandang ijazah... 
Tapi calon mertua kadang-kadang... Hehe :)


No comments:

Post a Comment

Apa Pendapatmu?

Trending