21 August 2015

Kenapa Tidak Merayakan Perbedaan?

Kita –manusia– dan seisi semesta diciptakan Tuhan syarat keberagaman. Dalam keberagaman itu, Tuhan membuatnya menjadi berpasangan-pasangan yang indah: siang-malam, laki-laki perempuan, tua-muda, tinggi-rendah, baik-buruk, dan lain sebagainya. Manusia dikarunai nafsu untuk keberlangsungan jenisnya, dan akal sebagai penghubung antar sesamanya, dengan alam sekelilingnya, dan dengan Tuhannya, sekaligus sebagai Mahkota Makhluk Tuhan paling mulia.

Manusia dijadikan bersuku bangsa berbeda-beda dengan bahasa yang tentunya tak sama. Ada yang dianugerahi kecerdasan sedang yang lain terbelakang, ada yang diberikan kekuatan sedang yang lain lemah, ada yang diberikan kekayaan sedang yang lain dalam kelaparan. Kalau kita melihat dari kejauhan –sejauh jarak langit dan bumi– posisi dan situasi penciptaan ini sepertinya memang sudah dirancang sedemikian rupa untuk dapat menjalankan sebuah sistem yang sangat kompleks:kehidupan.

Kalau diperhatikan lagi, pola dalam sistem tersebut selalu mengandalkan ketimpangan (=perbedaan) agar bisa terus bergerak, dan berakhir pada suatu titik tertentu. Air mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah, angin berhembus dari udara panas menuju udara dingin, surut di utara akan menimbulkan pasang di selatan, malam di barat bersamaan siang di timur. Semua itu menciptakan keseimbangan sempurna sebagaimana yang telah dijabarkan oleh ilmuan-ilmuan terdahulu tentang alam ini melalui hitungan yang sangat kompleks.

Perbedaan menyebabkan timbulnya ketergantungan satu sama lain. Saling ketergantungan menimbulkan pertukaran. Dan siklus pertukaran ini telah mengawal manusia sehingga membentuk suatu peradaban seperti sekarang. Melalui perbedaanlah, manusia berkembang.

Jika perbedaan itu positif, mengapa tidak merayakannya? Bangsa kita adalah bangsa perbedaan, yang seharusnya merupakan modal besar untuk menjadi sebuah negara yang kuat. Tapi apa yang terjadi? Perbedaan justru dijadikan senjata untuk menghabisi perbedaan itu sendiri dari bangsa ini. Yang pada akhirnya kita kehilangan makna tentang kemajemukan dan jati diri. Kita mungkin saja telah tanpa sadar mencoba keluar dari siklus itu. Dan jika itu terjadi, kita seketika berhenti berkembang. Sudah saatnya Indonesia bersatu dan bangkit, bukan untuk menjadi sama, namun berbhineka tunggal ika.

Merdeka!

...

Wahai, jiwa jiwa yang tenang
Jangan sekali kali kamu mencoba jadi Tuhan dengan mengadili dan menghakimi.
Bahwasannya kamu memang tak punya daya dan upaya
Serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yang sejati.
Bukankah kita memang tercipta laki - laki dan wanita dan menjadi suku suku, bangsa bangsa yang pasti berbeda?
Bukankah kita memang harus saling mengenal dan saling menghormati?
Bukan untuk saling bercerai berai dan berperang angkat senjata!

~ Laskar Cinta, Dewa 19.



No comments:

Post a Comment

Apa Pendapatmu?

Trending