22 August 2015

Benarkah Anak IPS Masyarakat Kelas Dua di Sekolah?

sumber: izzymedia.org

Masa SMA adalah masa yang terindah dalam hidup. Banyak orang dewasa yang bilang begitu ketika saya masih di SMP. Setelah melewati masa SMA, akhirnya saya harus mengulangi kalimat itu pada siapa saja yang sedang atau akan masuk ke sana. Anggap saja kita seumuran tapi saya baru pulang dari suatu tempat di masa depan dengan mesin waktu. :)

Masa SMA adalah sebuah masa transisi pertumbuhan mental seorang remaja awal, menuju remaja madya. Nantinya fase ini beralih ke remaja akhir ketika kita menempuh perkuliahan. Ibarat adonan puding, di masa SMA karakter seseorang sudah mulai terbentuk dan hampir mengeras. Masih hampir mengeras. Artinya masih ada kesempatan untuk membenahi diri, membentuk karakter tangguh manusia sukses masa depan.

Di masa ini perhatian kita tersita pada hal-hal yang dulu tidak pernah pikirkan sama sekali. Politik, kebenaran agama, filsafat, eksistensi, keseriusan hubungan pribadi, sosial, dan nilai-nilai sejenisnya. Kalaupun sebelumnya sudah pernah menjadi perhatian, di masa ini hal-hal tersebut datang dengan intensitas yang lebih.

SMA di Indonesia membagi konsentrasi dan peminatan belajar siswanya ke dalam jurusan-jurusan: IPA, IPS, BAHASA. Karena jumlah peminatnya, kebanyakan SMA hanya membagi dua jurusan saja, IPA dan IPS.

Perbedaan Anak IPA dan IPS


Jurusan IPA umumnya berisi ahli-ahli hitung, kutu buku, dan orang-orang dengan segala persyaratan menjadi nerd. Tapi tentu saja tidak semuanya. Materi pelajarannya lebih banyak hitung-hitungan, penalaran, analisis, dan sebagainya, makanya mereka terlihat pembawaanya lebih serius. 

Secara organisasi dan kegiatan ekskul, anak IPA lebih banyak aktif dalam organisasi ilmiah dan keagamaan, ada beberapa yang tergabung dalam pecinta alam, grup band, sanggar seni, Pramuka, Paskibra, PMR, dll. bersama anak IPS. 

Sementara jurusan IPS dihuni oleh kaum sosialis yang lebih rileks dan lebih membumi di sekolah. Kebanyakan mereka lebih berbakat di seni dan olahraga ketimbang akademik. Materi pelajarannya lebih ke hafalan yang cenderung lebih ringan. Bukan berati lebih mudah. Ada hitungan juga, seperti pelajaran Akuntasi dan Ekonomi. Tingkat kemampuan yang berbeda dengan hitungan sains.

sumber: portalsemarang.com

Apakah Siswa IPA Lebih Superior dari Siswa IPS?

Siswa IPA sering kali menjadi anak emas bagi guru-guru karena dianggap lebih pintar dari pada siswa IPS karena biasanya IPA merupakan pilihan pertama siswa-siswa, sehingga seperti ada anggapan bahwa IPS adalah "pembuangan", masyarakat kelas dua di sekolah. 

Saya sendiri mengambil jurusan IPA di SMA dulu. Suatu keajaiban saya bisa masuk jurusan itu. Kenapa saya memilih IPA? Semata-mata karena saya suka telah menyukai Matematika dan Fisika sebelumnya. Dan saya lemah dalam hafalan. Saya hanya bisa memahami pola dan menyukai rumus yang bisa diotak-atik seperti bongkar pasang dalam pelajaran-pelajaran itu. Lagi pula paman saya memang telah mengenalkan Albert Einstein kepada saya sejak TK dulu. Singkat kata, pilihan saya ke IPA itu adalah kesenangan semata. 

Apakah saya lebih cerdas dari anak IPS? Tidak juga. Seperti yang saya katakan di atas, pilihan IPA dan IPS itu masalah kesenangan. Passion. Bukan masalah cerdas atau tidak. Teman sebangku saya di kelas 1 SMA dulu (di sekolah saya, penjurusan itu untuk siswa kelas 2 ke atas), secara nilai dan teknik ilmu hitung, dia jauh lebih canggih dari saya. Dia jauh lebih cepat menghitung sin, cos, tan sudut-sudut bangun ruang yang minta ampun rumitnya kala itu. Tapi saat penjurusan dia justru memilih masuk IPS. Dia juga aktif diperkumpulan siswa gemar matematika yang berisi jawara-jawara matematika di sekolah, membayangkan duduk bersama mereka saja saya ngeri.

Teman-teman di IPA juga tidak sepenuhnya berisi orang yang cerdas akademik, mereka -seperti juga saya- menderita alergi mata pelajaran lain di jurusan IPA. Biologi dan kimia misalnya. Entah kenapa saya selalu ogah-ogahan ketika belajar di kelas dulu. Makin dipelajari makin tidak mengerti. Ya, faktor utamanya tidak bukan karena minat. Sekedar tidak remidialpun sudah Alhamdulillah. 

Jadi salah kalau menggap anak IPS itu lebih tidak cerdas, masyarakat kelas dua. Kelebihan lain, anak-anak IPS sangat piawai dibidang non-akademik sebangsa seni, olahraga, public speaking, dll. Seingat saya, sangat terhitung jumlah anak IPA yang terjun dalam dunia tersebut. 

Anak IPS Lebih Nakal?

Semua hal yang saya ungkap di atas adalah hal yang sangat relatif. Bukan sebuah formula paten yang berlaku di semua tempat dan kondisi. Perlu dilakukan penelitian secara luas dan bertahap untuk mendapat data valid tentang gambaran utuh karakter siswa menurut pilihan jurusannya. Termasuk anggapan bahwa anak IPS lebih nakal dibanding anak IPA.

Sejauh yang saya amati, paling tidak anak-anak IPS seangkatan saya di kota kami, Kendari, ada benarnya pernyataan tersebut. Sebagian besar mereka cenderung lebih banyak melakukan pelanggaran dan penyimpangan perilaku di sekolah waktu itu. Tidak peduli sekolah unggulan atau bukan. Tapi anehnya, hanya saat di sekolah. Karena beberapa yang saya kenal, kepribadian mereka 180 derajat berbeda ketika berada di rumah.

Sejak dulu saya sering mengira-ngira sendiri fenomena ini. Makin penasaran, saya akhirnya membaca banyak buku tentang pengenalan dan pengembangan karakter karenannya. Saya sangat tertarik karena itu tadi: masa SMA adalah masa yang krusial bagi kepribadian seseorang. Dan orang-orang yang banyak di SMA ini adalah cerminan bangsa di masa depan. Dengan kata lain, karakter mereka adalah karakter bangsa beberapa dekade mendatang. 

Sebagai doa, saya anggap fenomena ini hanya terjadi di Kendari. Jadi saya akan bicara hanya sepenglihatan saya saja.

Diakui atau tidak, pengerdilan karakter anak IPS jutru mejadi pemicu penyimpangan-penyimpangan mereka. Dan berikut beberapa penyebab lain yang saya simpulkan:


Pertama. Secara tidak sengaja guru-guru memperlihatkan perbedaan dalam memberikan perlakuan antara anak IPA dan IPS. Beberapa pengakuan langsung saya dapatkan dari mereka di ajang curhat tengah malam antar sesama lelaki setengah matang di sela-sela persiapan kegiatan OSIS. Sering juga saya temukan sindiran yang mereka tujukan langsung ke guru saat merasa tidak diperlakukan sama. Mereka pahami ini sebagai semacam diskriminasi.
Kedua. Siswa IPS jarang diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Entah karena event seni dan olahraga sangat jarang dilaksanakan atau karena ada penganggapan lebih mudah memberikan kepercayaan kepada siswa-siswi IPA untuk mengurus dan melaksanakan kegiatan-kegiatan siswa di sekolah. Terbukti dengan tidak banyaknya perwakilan IPS yang masuk pengurus OSIS (juga disebabkan oleh jumlah mereka yang lebih sedikit).

Ketiga. Karena peluang mencari pengakuan dan penghargaan lingkungan sekolah dengan cara positif selayaknya siswa lain tidak mereka dapatkan, akhirnya dipilihlah cara lain. Sebagai remaja pengakuan lingkungan memang sangat kita butuhkan untuk bisa merasa eksis. karena opini yang sudah terbentu tadi. Pelanggaran dilakukan untuk menarik perhatian lawan jenis dan guru. Tapi justru hal ini mengaminkan dan semakin menguatkan pengagapan negatif tadi. 

Ketiga point tersebut berputar membentuk siklus yang tiap bertemu permulaanya, makin naik levelnya. Guru-guru makin terlihat membedakan, mereka makin sulit diberi kesempatan menunjukkan kemampuan, dan akhirnya pelanggaran yang dilakukan makin berat untuk menciptakan daya tarik. Begitu seterusnya. 

Kesimpulan

Sekali lagi, semua yang saya ungkapkan ini kasuistik. Tidak mesti terjadi pada semua jurusan IPS. Kesimpulan yang pasti, makin baik kualitas sebuah lembaga SMA, maka makin mustahil semua teori saya di atas bisa berlaku.

Dan bagi anak IPS yang merasa seperti apa yang saya ceritakan, ketahuilah saudara...*asik.. kesuksesan tidak ditentukan oleh seberapa jenius kita, tapi seberapa kita serius untuk menjadi seseorang yang kita inginkan di masa depan. Dan karena hidup ini hanya sekali, tidak ada waktu yang boleh kita lewatkan sia-sia. Soal baik buruknya kita hanya Tuhan yang tahu. Bukan Tuhan dari Banyuwangi, Tuhan yang di langit ke tujuh di atas sana, Allah SWT. Sekali lagi, kesuksesan milik siapa saja yang menginginkan, bukan milik jurusan tertentu.

Salam Super. :))

Sumber: dougleschan.com



No comments:

Post a Comment

Apa Pendapatmu?

Trending