20 March 2015

Tentang Cita-Cita

Waktu masih TK dulu, ibu guru pernah bertanya pada semua anak yang ada di dalam kelas, "kalau sudah besar nanti mau jadi apa?"

Saya yang waktu itu masih belum sadar kalau suatu saat akan menjadi dewasa seperti ibu guru, ayah, ibu, dan semua orang yang hobi melarang anak kecil itu, seperti dibangunkan, bahwa akan ada suatu ketika kita harus memilih ingin dikenal sebagai siapa.

"Ayo, cita-citanya apa?" Ibu guru berusaha mengisi suasana kelas yang hening karena kami semua waktu itu mendadak menghayal jauh ke masa depan. Jauh sekali. Terlalu jauh bagi Saya. Suasana kelas perlahan gaduh ketika anak-anak yang sudah tahu cita-citanya mulai membanding-bandingkan dengan teman yang duduk disebelahnya. 

"Siapa yang ingin jadi pilot? Angkat tangan!" Ibu guru bertanya sambil mengacungkan tangannya. Hampir separuh kelas angkat tangan. "Saya... Saya.. Saya..!" Jawab mereka berebut.
Waktu itu saya beluim tahu sebergengsi apa menjadi seorang pilot. Saya tidak angkat tangan. Menurutku menjadi pilot tidak sekeren menjadi ranger merah. 

Itu berlanjut ke profesi-profesi lain. Masih tidak ada yang menarik. Saya belum menemukan alasan mengapa harus angkat tangan. Sementara teman-teman makin asik berebut seperti lelang barang antik.

"Siapa yang ingin jadi polisi? Angkat tangan!"Lanjut ibu guru semakin bersemangat. Teman-teman di kelas rame-rame angkat tangan. Bahkan yang sudah pilih menjadi pilot masih juga ingin menjadi polisi. Suasana kelas makin gaduh oleh suara anak-anak berebut cita-cita. Seakan-akan hanya ada satu orang yang boleh memilih cita-citanya, hanya boleh dirinya sendiri. Biasa, egoisme berbanding terbalik dengan pengetahuan.

Tapi Saya angkat tangan akhirnya. Di TK dulu saya ikut ekskul Polisi Cilik, Penari Kuda Lumping, dan Fashion Show Islami. Sambil angkat tangan, Saya membayangkan bagaimana jika kelak menjadi polisi. Tidak begitu menarik menurutku. Bukan sesuatu yang sangat Saya inginkan.

Saya sebenarnya jadi bingung saat itu, mengapa tiap anak seakan-akan harus angkat tangan memilih profesi sebagai sebuah cita-cita. Pilot, astronot, insinyur, arsitek, polisi, guru, dokter, dan profesi bergengsi lain di masyarakat. Bagaimana jika saya tidak ingin menjadi yang seperti itu?
"Saya tidak ingin menjadi siapa-siapa." Sambil menurunkan acungan tangan, Saya justru kehilangan makna cita-cita sebelum sempat memilikinya. #Aseek

Jauh berhari-hari setelahnya, Saya masih bertanya-tanya apa sebenarnya cita-cita itu. Kenapa harus dikaitkan dengan sebuah profesi? Kenapa orang-orang tidak ingin menjadi kesenangan mereka saja? Bahkan ketika melihat pengumuman kelulusan SMA, saya tidak punya ide bagaimana kehidupan dewasaku akan berjalan. I just wanna be myself. Mungkinkah itu juga cita-cita?

Seiring waktu, akhirnya Saya merasa perlu punya cita-cita. Untuk, paling tidak, bisa memberi judul pada jalan cerita kehidupan kita. Saya harus punya cita-cita, tapi bukan seperti yang orang lain maksud. Setelah berpikir lama, mengingat-ingat kegemeran dan harapan masa kecil, ternyata hanya ada dua hal yang sangat Saya inginkan selama masa dua belas tahun setelah tamat TK (2009): menginjakkan kaki di tanah Jakarta dan membuat sebuah robot beserta smart room-nya. Itu jauh sebelum teknologi gadget saat ini (2015) ditemukan. Saya curiga jangan-jangan orang Eropa diam-diam membaca pikiranku dan mecuri ide-ideku. Padahal, waktu itu Saya hanya anak SMA yang tidak punya cita-cita. Sungguh kejam mereka. Terlalu!

Saya yang masih kecil lebih "mengalir" ketika diminta bercerita tentang keinginan berkenaan dengan apa yang akan dilakukan, bukan menjadi sesosok orang yang berprofesi. Itu dua hal berbeda. Aktif dan pasif. Verb dan noun. "Menjadi apa" itu lebih seperti ada tiga tirai, mau pilih mana? 
Tapi dari ceritaku yang panjang lebar justru lebih sering mendapat respon, "jangan mimpi terlalu tinggi." Atau yang senada itulah.   

Sekarang saya akhirnya paham, bahwa cita-cita sebenarnya lebih kepada niat/keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu, bukan bulat sebagai profesi. 

Orang-orang yang ingin jadi polisi, ya karena ingin bisa bertidak seperti yang polisi lakukan. Menjaga ketertiban dan penegakan hukum, misalnya. Simpelnya, memang jadi polisi. Tapi apakah menjaga ketertiban dan menegakkan hukum hanya bisa dilakukan oleh polisi? Tidak, kan? Menjadi tukang sayur yang baik dan taat hukum juga merupakan bagian dari menjaga ketertiban dan menegakkan hukum.

Karena sudah menetap di Jakarta, belakangan Saya ingin menjadi penulis dan pembicara yang menginspirasi dan memotivasi banyak orang untuk berkarya, meskipun tidak menjadi penulis sungguhan (baca: terkenal). Saya ingin menerbitkan banyak buku dan karya sastra, punya istri cantik-solehah anak tunggal orang kaya, punya yayasan pendidikan, kesehatan dan sosial,  dan banyak hal yang sudah dan belum Bill Gates rasakan. Saya juga tetap ingin memajukan dunia robotika Indonesia.

Di depan layar ini, Saya melihat Indonesia masa depan yang berdiri kokoh, negeri yang super komplit yang bisa berdiri bahkan tanpa ada negara lain sekalipun. Sang Macan yang kembali disegani dunia berkat anak-anak mudanya yang berkarya, yang berkemampuan tiada banding. Indonesia negeri yang indah. Alam, budaya, dan masyarakatnya yang beramah-tamah dengan damai selamanya. 

Kerenkan? Hampir mirip cerita Cinderella, tapi itupun cita-cita.
Tidak ada yang terlalu tinggi, kecuali kita menjadi terlalu rendah.
Bermimpilah. Bercita-citalah.


Sukses!


2 comments:

  1. ternyata ada yg hampir sepaham dengan saya, dulu saya ga punya cita-cita sebenarnya ditanya disekolah juga saya cuma ikut-ikutan mengacungkan tangan ketika ditanya soal cita-cita dalam hati cita-cita dari sejak sd saya cuma ingin melanjutkan pendidikan sampai jenjang setinggi-tingginya yang saya mampu. ketika SMP pun disuruh mengisi sebuah biodata tentang cita-cita dan saya mengisinya dengan "melanjutkan sekolah sampai jenjang setinggi-tinginya" tapi wali kelas sekaligus guru bahasa Indonesia saya sepertinya menyindir saya, beliau juga menganggap cita-cita sebagai profesi. Sampai sekarang saya sudah lulus SLTA saya masih memiliki hasrat kuat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Saya memiliki idealisme bahwa jika saya mengetahui banyak ilmu, salahsatunya mencari ilmu dengan melanjutkan ke jenjang yg lebih tinggi saya bisa memilih ilmu yang suatu saat benar-benar saya sukai dan menerapkannya dalam sebuah pekerjaan atau memilih pekerjaan lain yg saya sukai juga. Intinya sih menjadi apa yang benar-benar saya inginkan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat sob! Orang-orang memang hanya akan memberi komentar: bolak-balik ke masjid saja kadang masih dianggap sok alim, apalagi rencana futuristik yang masih belum bisa mereka bayangkan. Lingkungan memang dirancang seperti itu. Tapi ada baiknya menyaring siapa dan apa komentar itu, pentingkah untuk didengarkan?

      Karena tidak ada orang lain yang akan bertanggung jawab atas masa depan kita. Kalau benar kita sukses dan bahagia, sebagian dari mereka malah jadi iri dan merasa menjadi pahlawan kesuksesan kita. Tapi kalau kita gagal, tidak ada satupun mereka yang mau mempertanggung jawabkan komentar negatifnya, bahkan guru atau orangtua sekalipun. Semua tergantung kita. Sukses ya!

      Delete

Apa Pendapatmu?

Trending